SELAMAT DATANG DI YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM SABILURRAHIM !!!! SEMOGA BERMANFAAT !! AMIIN !!!

MENGATASI KESULITAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH


MENGATASI KESULITAN MENURUT AL-QUR’AN DAN SUNNAH

            Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Karena itulah sunnatullah yang telah digariskan dalam kehidupan manusia yang selalu dinamis, penuh warna dan tantangan. Pasang-surut kehidupan, susah dan senang, sehat dan sakit, sukses dan gagal, silih berganti mewarnai perjalanan hidup setiap orang. Karenanya jangan aneh atau kaget apabila jalur kehidupan kita tidak selalu lurus atau baik-baik saja. Terkadang berkelak-kelok dan bergelombang. Live never flat (hidup tidak pernah rata atau enak terus), begitu kata sebuah iklan. Maka kita harus siap menghadapi keniscayaan hidup baik berupa kenikmatan ataupun kesulitan.

Tidak ubahnya seperti orang yang melakukan perjalanan, jika sepanjang perjalanannya lurus terus bagaikan jalan tol, tidak ada belokan atau lika-likunya, maka semua orang pasti merasa bosan. Begitu pula sebaiknya, jika jalanannya berkelak-kelok terus, tidak ada jalan yang lurus sama sekali, so pasti tidak ada satu pun orang yang menikmati perjalanan tersebut. Bahkan sebagiannya pusing-pusing dan perutnya mual ingin muntah. Hidup tidaklah nikmat jika kondisinya monoton, begitu-begitu saja. Senang terus tidak pernah susah, pasti penikmatnya lambat laun akan merasa bosan. Sebaliknya susah terus tidak pernah senang, sudah barang tentu akan membuat orang berputus asa. Maka dengan kebijaksanaan Allah, hidup ini dibuat berputar, silih berganti, bagaikan roda yang terkadang di atas dan terkadang pula di bawah. Nasib manusia dibikin beraneka warna oleh Allah agar menyenangkan. Tidak ubahnya seperti televisi, yang jika berwarna hitam putih saja, tentu tidak menarik ditontonnya Berbeda dengan televisi berwarna yang menampilkan aneka warna benda, sudah pasti lebih enak disaksikan. Uniknya lagi, di balik aneka warna episode (takdir) baik dan buruk yang dialami oleh setiap makhluk terkandung hikmah yang sangat besar bagi kemaslahatan hidup manusia, sebagai makhluk yang dipilih menjadi pemakmur, pengatur dan pemelihara bumi (khalifah fil ardh).

Syekh Ibnu ‘Atho’illah as-Sukandary menyadarkan para penghuni dunia tentang hakekat dunia yang sejatinya tempat yang penuh dengan kenestapaan, kerusakan, huru-hara, bencana dan lain-lain. Dalam Syarh al-Hikam, ia menuturkan:

لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَ كْدَارِ مَا دُمْتَ فِي هٰذِهِ الدَّارِ                           

Janganlah engkau merasa heran dengan munculnya berbagai kekisruhan (bencana, kesulitan, kekacauan dan sejenisnya) selama engkau menghuni negeri dunia ini.”[1]

 Beliau ingin membuka mata hati kita dalam memandang dunia yang sering dipersepsikan sebagai tempat yang penuh dengan keindahan, keramaian, suka cita, glamor (serba gemerlap), sehingga banyak orang yang tertipu dan terpesona oleh jerat-jerat dunia yang menghanyutkan jiwa-jiwa yang kosong dan kering spiritualitasnya. Padahal sesungguhnya dunia itu tempat persinggahan sementara untuk menanam banyak kebaikan sebagai bekal menempuh perjalanan panjang nan abadi di akherat. Dengan kata lain, dunia itu jembatan emas menuju kebahagiaan akherat.

Jadi, sejatinya dunia bukan tempat balasan atas amal yang kita perbuat. Maka kita tidak langsung dibalas dengan gelontoran perhiasan, pakaian-pakaian indah, kendaraan-kendaraan mewah, dan sebagainya atas segala bentuk ibadah yang telah kita kerjakan. Negeri pembalasan adalah negeri akherat. Di sanalah kita menerima berbagai nikmat surgawi yang berlimpah, tidak terputus dan tidak tercegah, mempesona, lagi abadi. Karena itulah menurut Syekh Ibnu ‘Atho’illah, selama hidup di dunia ini kita tidak boleh heran jika mendapati berbagai kondisi yang tidak diinginkan (makaarih) dan penderitaan (al-masyaaq) seperti kematian, kemiskinan, kesempitan, kesedihan, kekacauan, ketidakadilan, kriminalitas, serta berbagai musibah dari bencana alam sampai kerugian yang bersifat pribadi.

Selain itu, dunia juga bersifat fana (cepat rusak, hancur dan binasa), nikmat yang singkat, sebentar atau sementara, permainan dan senda gurau[2] serta tipu daya[3] bagi orang yang bervisi lemah, berpikiran picik, berselera rendah dan hina.  Sebaliknya jika kita memahami hakekat negeri akherat (khususnya kehidupan surgawi), justeru di situlah kita mendapati kehidupan ideal yang diidam-idamkan, kehidupan yang langgeng nan sempurna[4]. Tidak ada penderitaan, kesedihan, kebingungan, keonaran ataupun bencana lainnya, Yang ada hanya kebahagiaan, kemudahan, keamanan, kemuliaan, dan berbagai kenikmatan lainnya. 

Alhasil, kita mesti berbesar hati jika mendapati hal-hal yang tidak menyenangkan selama menjalani kehidupan duniawi. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi dengan baik dan benar semua problematika kehidupan yang menghadang sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi pedoman hidup setiap Muslim dan Muslimah..


Resep Mengatasi Kesulitan Menurut Al-Qur’an dan Sunnah

Sebagai umat Islam, kita amat beruntung mendapat petunjuk-petunjuk praktis dari Allah dan RasulNya dalam mengatasi berbagai rintangan dan cobaan agar kita dapat melewatinya sekaligus menikmatinya sebagai seninya kehidupan. Di antara ajaran Al-Qur’an dan Sunnah dalam mengatasi kesulitan adalah sebagai berikut:
           
1.      Bersabar dan shalat.

Pada dasarnya di dunia ini setiap orang tidak akan lepas dari susah dan senang. Maka sikap manusia dalam hidupnya dapat disederhanakan menjadi dua sikap : pertama, bersyukur setiap kali mendapat nikmat; kedua, bersabar ketika menghadapi kesulitan atau musibah. Solusi pertama dan utama mengatasi kesulitan adalah dengan sabar dan shalat. Allah SWT berfirman :

وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِيْنَ (٤٥)       

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.” (Q.S. Al-Baqarah : 45)

Sabar yang dimaksud ayat ini bukanlah suatu sikap yang hanya “nrimo” begitu saja terhadap nasib atau keadaan. Sabar di sini mengandung arti “habsun nafsi” (pengendalian diri). Dengan kata lain, kita disuruh cerdas mengelola emosi dan nafsu kita agar tidak sampai melakukan tindakan yang bodoh, merusak, dan merugikan. Sebaliknya akal kitalah yang harus mendominasi dan menyetir emosi dan nafsu kita tersebut agar cermat dalam bersikap dan bertindak, sehingga akan melahirkan solusi terbaik dari setiap masalah.

Bersabar dalam menghadapi musibah atau tantangan, artinya terus menerus berusaha merubah nasib atau keadaan dengan penuh optimis, tidak mengenal lelah putus asa, dan menyerah sampai masalahnya dapat terselesaikan atau terpecahkan. Sebab dunia tidak akan peduli dengan kesedihan kita, sampai kita sendiri yang bangkit dari kedukaan atau keterpurukan. Life must go on, hidup harus terus berlanjut, tidak boleh terhenti hanya karena suatu musibah atau tragedi. Tanpa kita sendiri yang berusaha menata dan memperbaiki kondisi kita, mustahil nasib kita akan berubah. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib seseorang jika ia sendiri tidak mau merubah nasibnya? Sebagaimana firmanNya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ                                                

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S.Ar-Ro’du : 11)

Kemudian Allah memberi kita petunjuk utnuk menjalankan shalat sebagai solusi mengatasi masalah. Selain shalat fardhu yang sudah merupakan kewajiban, sebaiknya kita pun mengerjakan shalat-shalat sunnah lainnya, terutama sholat sunnah yang seringkali dijadikan media memohon pertolongan seperti Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud, dan Sholat Tasbih. 

Rasulullah saw memberi contoh kepada kita, yakni setiap kali beliau menghadapi masalah apa saja baik yang berkaitan dengan masalah pribadi, keluarga, ataupun ummat beliau segera curhat kepada Allah melalui ibadah shalat. Sebagaimana yang dituturkan oleh Hudzaifah al-Yamani berikut ini :

كَانَ اِذَا حَزَنَهُ اَمْرٌ صَلَّى
          
Adalah Rasulullah saw apabila menghadapi suatu perkara yang menyedikan/menyulitkan, maka bersegeralah beliau menjalankan shalat.” (H.R.Ahmad dan Abu Dawud).

Shuhaib r.a telah diberitahu oleh Rasulullah s.a.w. bahwa para Nabi a.s. jika menghadapi suatu masalah, mereka juga akan segera melaksanakan shalat. Para sahabat Nabi pun turut mempraktekkan ajaran mulia tersebut. Contohnya ketika Ibnu Abbas r.a. sedang dalam perjalanan, tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa anaknya telah meninggal dunia. Ia pun segera turun dari untanya, kemudian sholat dua rokaat dan mengucapkan :

اِنَّا لِلّٰهِ وَ اِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ                                                   

Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita semua akan kembali kepadaNya.” (Q.S.Al-Baqarah : 156)

Lalu ia berkata, “Aku telah melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
وَاسْتَعِيْنُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِيْنَ (٤٥)       

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.” (Q.S. Al-Baqarah : 45)[5]

Abdullah bin Salam r.a berkata, “Apabila keluarga Nabi s.a.w. ditimpa suatu kesulitan, maka beliau menyuruh keluarganya mendirikan shalat seraya membaca ayat al-Qur’an:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لاَ نَسْئَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Thaahaa : 132). [6]


Begitu pula kita jika menghadapi suatu problema, disunnahkan untuk sholat guna mencari solusi terbaik dari Allah. Karena Dia-lah sebaik-baiknya penolong, satu-satunya tempat berserah diri,  Pengurus yang terbaik, tempat bermohon dan berharap semua makhluk. Apalagi Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap padaNya.

Shalat adalah media curhat yang efektif kepada Allah. Seseorang dapat menumpahkan segala keluh kesahnya di hadapan Sang Khalik (Pencipta). Apa saja yang menghimpit jiwanya, membebani pikirannya, mempersempit daya upayanya, bisa dengan bebas diungkapkan dengan transparan, tanpa tedeng aling-aling. Sebab tiada satu pun yang tersembunyi di dada, melainkan pasti diketahui oleh Allah Ta’ala. Terlebih lagi hubungan yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah saat bersujud, sehingga Nabi menyuruh kita untuk banyak berdo’a saat itu. (H.R. Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i)

2. Bersedekah.

Cara lain yang mujarab untuk mengatasi kesulitan adalah dengan bersedekah. Apabila kita ingin dimudahkan segala urusan, maka cara yang paling ampuh adalah bersedekah seawal mungkin, sebelum kita memulai urusan tersebut. Melalui wasilah (perantara) sedekah, maka bantuan Allah akan segera turun menuntaskan segala urusan, menghalau segala bala’, mempermudah segala yang sulit, mengurai semua kerumitan, menghasilkan segala maksud dan mewujudkan semua harapan.

Di antara janji Allah dalam Al-Qur’an adalah memberi kemudahan bagi hamba-hambaNya yang selalu bermurah hati, peduli sosial dengan semangat berbagi.  menyingsingkan lengan baju, berkorban untuk membahagiakan orang lain yang terbelit kesulitan. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah sebagai berikut:

$¨Br'sù ô`tB 4sÜôãr& 4s+¨?$#ur ÇÎÈ   s-£|¹ur 4Óo_ó¡çtø:$$Î/ ÇÏÈ   ¼çnçŽÅc£uãY|¡sù 3uŽô£ãù=Ï9 ÇÐÈ  

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.S.Al-Lail : 5-7)

Sebaliknya bagi mereka yang kikir alias bakhil, maka dunia ini terasa sempit, sukar, dan rumit. Kesialan selalu menyertainya. Bala’ selalu menghantuinya. Hidupnya jauh dari rahmat, berkah dan ridho Allah. Tiada kedamaian dalam hatinya. Tiada pula jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya, seperti menemui jalan buntu. Alih-alih Allah membantunya, manusia saja tidak ada yang sudi menolongnya.  Allah mengingatkan hal ini dalam firmanNya:

وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى (٨)وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى (٩)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى (١٠)  

Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”(Q.S.Al-Lail : 8-10)

3. Memudahkan urusan orang

Sudah menjadi sunnatullah bila seseorang yang menebar kebaikan maka ia akan menuai kebaikan. Sebaliknya orang yang menebar keburukan, pasti ia akan menuai keburukan pula. Barangsiapa yang memancarkan kebaikan maka akan terpantul pula kebaikan padanya, demikian juga sebaliknya. Ibarat orang yang menanam jeruk, tidak mungkin menuai kedondong, begitu pun sebaliknya. Ini sebuah keadilan yang berlaku universal. Siapa pun dia, apa pun warna kulitnya, dari bangsa mana pun, sunnatullah ini tetap berlaku.

 Mereka yang suka memudahkan urusan orang lain, maka urusannya pun akan dimudahkan lagi oleh Allah. Siapa saja yang selalu menolong sesama, maka ia pun akan ditolong lagi oleh Yang Maha Kuasa dengan berbagai cara yang dikehendakiNya. Rasulullah saw bersabda :

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللّهً عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَ الْاَخِرَةِ                
Barangsiapayang memudahkan urusan orang yang tertimpa kesulitan,maka Allah akan memudahkan urusannya di udnia dan akherat.” (H.R.Ibnu Majah)

Selain itu, jika kita berbuat baik kepada orang lain, sama dengan kita bebuat kebaikan pada diri kita sendiri. Sebaliknya jika kita berbuat jahat kepada orang lain, maka kerugiannya tidak akan berpulang kepada siapa-siapa, melainkan kepada diri si pelakunya sendiri. Allah Ta’ala berfirman:

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا                                                           

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”(Q.S.Al-Isra : 7).

4.   Silaturrahmi

Sesungguhnya kesulitan apa pun pasti bisa terpecahkan, jika kita mau bersilaturrahmi kepada kerabat, tetangga, teman, kenalan atau siapa saja yang sewaktu-waktu kita butuhkan pertolongannya. Banyak orang yang tidak menyadari arti penting silaturrahmi, sehingga mereka masih malas untuk melakukannya. Padahal Silaturrahmi sejatinya memiliki banyak manfaat, selain panjang umur dan memperluas rezeki. Sebagai contoh, silaturrahmi dapat menjadi sarana curhat (mencurahan isi hati), mengadukan keluh kesah kepada orang lain yang kita sayangi atau kita kenal berkenaan dengan problematika yang kita hadapi. Sebab, jika kesulitan ditanggung sendiri, pastilah seseorang akan cepat stress atau depresi. Berkat silaturrahmi, minimal kita bisa berbagi kesulitan, sehingga beban kita semakin ringan. Tanpa disadari, inilah wasilah (perantara) kita panjang umur. Apabila kita terhindar dari stress atau depresi, berarti kesehatan jasmani dan ruhani kita terpelihara, yang menjadi sebab panjang umur. Bahkan pada zaman Nabi Daud a.s. ada orang yang ditambahkan umurnya oleh Allah selama 20 tahun, sebagai bonus silaturrahmi.[7]

Keuntungan selanjutnya adalah lapang rezeki. Setidaknya makanan dan minuman kita peroleh saat bersilaturrahmi. Kadang kala rezekinya berupa pinjaman uang, pemberian fasilitas, modal, deal bisnis dari saudara, tetangga, kawan atau rekanan bisnis yang kita kunjungi. Kendati demikian, rezeki di sini tidak sekedar berbentuk materi saja. Bisa jadi pula berupa rezeki do’a dan nasehat kalau kita bersilaturrahmi kepada seorang kyai atau guru. Atau rezeki mendapat bantuan hukum dengan sebab menjalin silaturrahmi kepada seorang hakim, pengacara, jaksa, atau polisi. Meraup simpati dan dukungan dari banyak orang jika rajin bersilaturrahmi kepada tokoh-tokoh masyarakat, sehingga akan memperoleh rezeki jabatan. Dan masih banyak lagi kemudahan dan solusi yang bisa `kita raih melalui berkah silaturrahmi. Sungguh amat benarlah sabda Rasulullah yang menyatakan:

مَنْ سَرَّهُ اَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَ يُنْسَأَ لَهُ فِيْ أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ           

Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia memperat tali silaturrahmi.” (H.R.Al-Bukhori dan At-Tirmidzy)

5. Sadarilah bahwa lebih banyak kemudahan yang kita nikmati dari pada kesusahan yang kita derita

Salah satu bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya adalah mengkaruniai lebih banyak nikmat daripada cobaan. Orang lebih panjang mengalami masa sehat daripada masa sakit. Lebih lama merasakan masa jaya daripada masa kejatuhan. Lebih sering untung daripada ruginya. Lebih banyak sukanya daripada dukanya Karenanya janganlah kita melupakan kebaikan-kebaikan Allah begitu saja, hanya lantaran sedang dicoba dengan suatu musibah. Seharusnya kita banyak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah kita reguk, agar Allah semakin menambah nikmat-nikmatNya kepada kita.(Q.S.Ibrahim : 7).

Nabi SAW mengingatkan kita bahwa betapa pun beratnya musibah, masih kalah dengan derasnya limpahan kasih sayangNya baik berupa anugerah yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Bahkan yang tidak diminta oleh kita pun, seandainya itu perlu dan penting bagi keselamatan dan kemaslahatan hidup kita, maka diberikan juga olehNya. Rasulullah saw bersabda :

لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْن                                                                                                                              
           
Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (H.R.al-Hakim)

Itulah sebabnya Allah memberi semangat berjuang dan menanamkan optimisme kepada hamba-hambaNya melalui firmannya:

 فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٥) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (٦ )                   

Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6)

Allah melukiskan kata kesulitan (الْعُسْر )dalam bentuk IsimMakrifat (khusus, yang ditandai dengan Alif Lam di awal kata)yang berarti kesulitan itu cuma satu alias sedikit. Sementara untuk kemudahan (يُسْرًا ) dilukiskan Allah dalam bentuk Isim Nakirah (umum, yang ditandai dengan tanpa Alif Lam). Di sini Allah ingin menegaskan dan meyakinkan kepada kita semua bahwa kemudahan atau nikmat itu jauh lebih banyak dan lama menyelimuti seorang hamba ketimbang kesulitan yang sedikit dan sebentar.

Oleh karena itu, tidak paantas kita menggerutu atau menyesali keadaan, meratapi musibah, atau putus asa terhadap penyakit. Justeru perbanyaklah mengingat nikmat-nikmat yang sepanjang ini telah kita rasakan.

6. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menimpakan musibah atau cobaan di luar batas kesanggupan seseorang.

Allah Yang Maha Bijaksana sudah pasti lebih mengetahui batas-batas kemampuan tiap hambaNya dalam menanggung musibah atau cobaan. Karena itu setiap musibah tidak akan ditimpakan begitu saja tanpa kadar yang bisa dipikul oleh hamba yang ingin dicintaiNya. Maka janganlah kita berburuk sangka sedikit pun kepada Allah atas musibah yang menimpa kita. Al-Qur’an menegaskan sebagai berikut:
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا                                       
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah : 286)

7. Sadarilah pula bahwa jika seorang hamba sedang dicoba, berarti ia sedang disayangi Allah.
           
Cobaan yang ditimpakan kepada seorang hamba yang saleh bukanlah karena Allah membencinya, sebaliknya justeru Allah sedang mencintainya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

اِذَا اَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلَاهُ لِيَسْمَعَ تَضَرُّعَهُ              
Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan menguji hamba tersebut dengan aneka cobaan demi mendengar curahan hatinya.” (H.R.Al-Baihaqy dan Ad-dailamy).

Itulah sebabnya mengapa kalangan sufi merasa rindu untuk diberi ujian atau cobaan dalam berbagai bentuknya. Karena dengan begitu mereka merasa disayang oleh Allah. Justeru mereka bertanya-tanya atau penasaran jika Allah selalu memberi kenikmatan, dan jarang memberi cobaan; jangan-jangan  Allah sudah tidak sayang lagi kepada mereka.

8. Berdo’a

Do’a adalah senjata orang yang beriman, tiangnya agama, dan cahaya yang mencerahkan langit dan bumi (H.R. al-Hakim dan Abu Ya’la). Allah Ta’ala juga menyuruh hamba-hambaNya banyak berdoa. Dalam berdo’a tersimpan harapan besar tanpa akan pertolongan dan kasih sayang Allah YangMaha Kuasa sekaligus penegasan atas kedho’ifan (kelemahan) manusia sebagai hamba yang tiada daya dan upaya untuk meraih manfaat atau menolak madharat (bahaya) tanpaidzin dan pertolongan Allah SWT. 

[1] Ibnu ‘Atho’illah As-Sukandary, Syarh al-Hikam,  Syirkah An-Nuur Asia, Jakarta, ttp, hal.24
[2]  Q.S. Al-An”am
[3] Q.S. Al Hadid : 20
[4] Q.S. Al-Ankabut : 64
[5] Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi, Himpunan Fadhilah Amal, terjemahan Fadha’il Qur’an oleh A. Abdurrahman Ahmad dkk, Ash-Shaff, Yogyakarta, 2006, Hal.97
[6] Maulana Muhammad Zakaria al-Kandahlawi, Himpunan Fadhilah Amal, terjemahan Fadha’il Qur’an oleh A. Abdurrahman Ahmad dkk, Ash-Shaff, Yogyakarta, 2006, Hal.98
[7]  Zainuddin al-Maliabry, Irsyadul Ibad,  Syirkah Maktabah al-Madinah, ttp, hal 100

3 komentar:

Tulis Pesan atau komentar dengan sopan!